Double Stochastic

bigchart.gif

Pasar telah pulih dari harga terendah tanggal 22 Januari, namun saya percaya minggu ini akan menjadi awal dari pergerakan menurunan yang signifikan. Persepsi bahwa landscape ekonomi telah berubah dari penjualan grosir serta angka inflasi konsumen, testimony Bernanke dan studi yang dirilis hari Jumat oleh David Greenlaw dari Morgan Stanley maupun John Hatzious dari Goldman Sachs mengenai kerugian mortgage dan imbasnya ke peminjaman. Anda juga dapat melihat indikasi teknikal yang ditunjukkan oleh grafik – yang saya sebut sebagai “Double Stochastic”

 

Inflation

Kenaikan inflasi telah membuat para ekonom berpikir mengenai stagflasi – suatu periode pertumbuhan ekonomi yang rendah atau negative, dibarengi tingkat pengangguran dan inflasi yang naik. Ini berbeda dari resesi dimana inflasi secara normal berkurang ketika pertumbuhan melamban atau negative akibat rendahnya tingkat permintaan. The Fed, seperti yang terlihat pada kecendrungan statementnya yang dirilis terakhir, masih yakin bahwa inflasi akan melambat meskipun kecendrungan kenaikan inflasi lebih tinggi kisarannya dibandingkan statement nya bulan October.

Stagflasi juga kejadian yang sangat langka, namun begitu terjadi biasanya lebih lama dibandingkan resesi biasa. Terakhir kali terjadinya selama tahun 1970, ketika Arab menginisiasi embargo minyak. Hingga menjadikan shock dari sisi supply membawa spiral inflasi yang liar pada harga minyak, kemudian harga keseluruhan menjadi inflasi pada kala itu saat bersamaan ekonomi telah melambat.

Jika stagflasi kembali terjadi kali ini, tidak akan terpicu dari sisi supply – karena saat ini tidak ada embargo minyak, dan juga tidak ada kemungkinan ke arah sana. Apa yang terjadi kali ini adalah shock dari sisi demand; permintaan dari ekonomi Negara berkembang (terutama China, Russia, Brazil dan India) tidak hanya untuk minyak, tapi juga lingkup komoditi yang lebih luas termasuk bahan pokok dan logam. Shock sisi permintaan ini memiliki potensi untuk membawa harga komoditi naik di saat bersamaan ekonomi AS sendiri sedang melambat (dan bahkan dapat melambat lebih jauh pada rate pertumbuhan yang negative), dan jika hal itu terjadi AS akan mengalami fase stagflasi.

Teori ekonomi yang standard mengatakan ketika AS melambat, maka seluruh dunia pun mengalami hal serupa. Para ekonom sebagian masih percaya bahwa kasus seperti itu yang akan terlihat, terutama karena pengaruh AS yang begitu besar kepada kekuatan ekonomi dunia yang selalu terjadi selama ini. Sementara debat itu tidak akan terjawab disini, kita dapat lihat bukti-bukti nyata dan fakta bahwa permintaan untuk komoditi masih berlanjut dalam skala global, kendati fakta AS melambat. China, India, Brazil dan Rusia tidak mengalami pelambatan GDP kali ini. Fakta ini juga menunjukkan rate headline dan core inflasi masih meninggi selama periode awal pelambatan ekonomi.

The Fed, seperti yang disebutkan dalam semua pernyataannya, selalu khawatir terhadap ekspetasi inflasi dan keperluannya untuk menjaga ekspetasi tersebut “terkoordinasi (anchored).” The Fed melacak ekspetasi tersebut dengan berbagai cara – diantaranya melalui survey konsumen dan bisnis dengan ukuran 10 year bond ke 10 year TIPS spread. Spread tersebut sudah menanjak kira-kira dari 2.20 ke 2.44 beberapa bulan terakhir. Angka 2.44 ini merupakan rate inflasi yang diekspetasikan pasar masih menanjak meskipun sementara ini masih tergolong di level rendah sepanjang data historisnya, namun seiring anda melihat kenaikan tersebut – menjadikan bukti bahwa pasar saat ini merasakan ancaman dari kenaikan inflasi.

Bernanke

Selama hari keduanya memberikan testimony. Bernanke mengatakan “both fiscal and monetary policy face some additional constraints” relative dibandingkan awal decade 2001, pemerintah federal dalam proyeksi surplus, namun saat ini masih deficit. Di awal 2001, inflasi ada pada 3.7%. Saat ini, 4.3%.

Sebagai tambahan, Beliau juga menunjukkan efek negative pada penurunan pasar saham dalam kurun 2000 – 2002 kejatuhan di banyak perusahaan menjadi hasil menarik investasinya. “Dalam kasus ini konsumen yang terkena imbasnya,” akibat asset terutama rumah yang lebih penting daripada saham itu sendiri bagi rumah tangga. Beliau juga menyebutkan kemungkinan kegagalan beberapa bank yang mungkin akan terjadi tahun ini.

The Greenlaw/Hatzious Study

Kerugian mortgage, diikuti kontemporer risk management dan kesalahan accounting dapat mengakibatkan banyak bank dan peminjam lain untuk mengecilkan peminjamannya dan juga asset yang lain seiring dengan waktu dapat mencapai $2 trillion. Hasil akhir penarikan kredit dapat mengurangi 1 hingga 1.5 persen pertumbuhan ekonomi, secara signifikan diikuti oleh imbas konstruksi rumah yang kolaps serta spending konsumen yang melemah akibat berkurangnya kekayaan dari nilai rumah.

Studi ini menjelaskan fenomena akselerasi financial, yang diutarakan pertama kali oleh Ben Bernanke ketika masih di akademi dan kini menjadi faktor utama keputusannya untuk memangkas suku bunga secara drastic akhir-akhir ini. Mr Bernanke juga mengatakan kepada kongres minggu lalu bahwa akselerator tersebut “kemungkinan semakin meningkat daripada biasanya dimana kondisi sector kredit di pasar keuangan menjadikan hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Dan melambatnya ekonomi, menjadi kekhawatiran utama pasar keuangan karena berarti kualitas kredit akan semakin menurun.

Technical

Indikator yang digunakan disini adalah yang sering saya jadikan patokan pada berbagai variasi pasar lainnya dan dalam contoh ini digunakan pada S&P500 karena korelasi antara S&P, Yen dan Yen Carry Trades. Indikator itu sendiri membentuk pola yang saya sebut sebagai “Double Stochastic” dan dalam kasus ini ada indikasi ganda bahwa harga telah “jenuh dibeli (Overbought)” dan kemungkinan besar untuk menurun.

Jika anda melihat area grafik yang ditandai “first double overbought”, anda dapat melihat dua harga puncak dimana stochastic nya juga overbought. Kunci nya disini adalah membandingkan indikasi yang kedua ke pertama, dimana stochastic overbought yang kedua, harganya semakin rendah daripada yang pertama. Dengan kata lain mengatakan meskipun harga telah jatuh, masih terlalu mahal untuk dibeli sehingga kemungkinannya akan semakin jatuh. S&P jatuh 9.0% setelah indikasi tersebut nampak pada puncak nya yang kedua sementara GBP/JPY jatuh 1737 pips. Hal yang sama berlaku pada area yang ditandai dengan “second double overbought”, dimana S&P jatuh 12.5% sementara GBP/JPY drop 2267 pips.

Area yang ditandai dengan “third double overbought” adalah kisaran harga saat ini. Pertama kali terbentuk tanggal 27 feb, kemudian kondisinya masih berlanjut pada 28 feb, dan dikonfirmasi pada tanggal 29 feb.

Sementara Double Stochastic tidak mengindikasikan seberapa jauh pasar dapat turun, kita dapat menggunakan hasil masa lalu sebagai panduan untuk membuat estimasi tersebut (sejalan dengan fundamental). Kita dapat gunakan dua pergerakan terakhir, yang jatuh sekitar 10.5%. Bahkan jika ingin lebih ambisius, kejatuhan yang kedua 30% lebih besar dibanding yang pertama, maka kali ini mungkin penurunan berkisar diantara 15% hingga 16%. Grafik tersebut juga menunjukkan area exit yang baik ketika terlihat kedua kalinya stochastic menunjukkan market yang oversold. Dan meskipun tidak terlihat pada dua penurunan terakhir, anda dapat menggunakan MACD untuk mencari indikasi divergence-jika pasar memang benar membuat low baru sementara MACD nya tidak demikian, maka dapat diambil kesimpulan signal waspada untuk akhir daripada trend penurunan.




Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s