SBY Terpilih, Rupiah Bakal Perkasa?

Penguatan dan Pelemahan RUpiah di Bulan Pilpres, %gainKOMPAS.com — Dalam tiga dari empat pilpres 12 tahun terakhir ini, rupiah terapresiasi terhadap dollar AS di bulan pelaksanaan pilpres. Berdasarkan data musiman ini, kita dapat mengharapkan penguatan rupiah lebih lanjut. Bulan pelaksanaan pilpres merupakan bulan yang unik di pasar uang karena tidak hanya terlihat kecenderungan tren yang kuat, namun juga menjadi bulan di mana mata uang rupiah menguat beberapa persen.

Seperti kita ketahui bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali ingin memenangkan pemilihan presiden tanggal 8 Juli nanti. Mantan Presiden Megawati Sukarnoputri serta Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menjadi saingan dalam pemilu. Setelah melalui jalan yang cukup panjang untuk menentukan pilihan siapa yang akan menjadi partnernya dalam pemerintahan, di luar dugaan publik, SBY memilih Boediono (Gubernur Bank Sentral Indonesia) sebagai wakilnya, dan ini mengangkat kredibilitas SBY dalam menjalankan kebijakan ekonomi mendatang.

Popularitas SBY terangkat sebagian karena persepsi strategi antikorupsi yang dijalankannya, perdamaian di Aceh, dan meningkatnya produktivitas agrikultur, serta kinerja ekonomi di masa krisis keuangan yang lebih baik dibandingkan negara ASEAN, terbukti mata uang rupiah menjadi best performer di Asia dengan penguatan sebesar 9 persen per akhir Juni 2009.

Penguatan rupiah saat itu dipicu oleh sentimen yang sama dengan konsensus yang terlihat di pasar saham global, yaitu optimisme atas potensi pertumbuhan pesat di tahun 2010 yang akan mengangkat ekonomi dari titik terbawah. Sinyal perbaikan prospek makro-ekonomi global ini serta berkurangnya pengalihan risiko investor menjadi daya tarik arus modal asing ke Indonesia. Di bulan Februari 2009, devisa BI ikut naik hingga 54 miliar dollar AS berkat tarikan swap agreement dengan Jepang, China, dan Korea. Faktor inilah yang memupuk tingkat keyakinan para investor sehingga risk appetite (minat terhadap aset risiko) atas pasar Indonesia (obligasi dan saham) meningkat.

Kami melihat adanya korelasi yang kuat antara pasar saham, obligasi, dan rupiah. Performa rupiah banyak bergantung pada arus modal masuk dan keluar di pasar saham dan obligasi. Rupiah akan berada dalam tekanan jika pengalihan risiko global kembali berembus, ini bisa saja terjadi jika resesi berlangsung lebih lama (resesi pola-U) dari yang diharapkan. Apalagi saat ini pasar optimistis ekonomi global sudah memasuki masa pemulihan, sehingga jika ada kejutan sebaliknya dapat berimbas pada reversal sentiment serta kerugian kontrak derivative, efek nya berbagai bank akan membutuhkan dollar untuk menutupi kerugian tersebut.

Begitulah sentimen fear, yang mendorong pelaku pasar menarik modal mereka dan memarkirnya di dollar AS atau obligasi denominasi dollar AS yang dianggap lebih aman. Keluarnya modal asing secara besar-besaran pernah terjadi di pertengahan 2007, ketika itu rupiah melemah tajam dari level 9.000 ke 12.500.

Namun kali ini sinyal fundamentalis positif akan segera datang, terutama jika pemerintah SBY mendapatkan suara cukup signifikan pada tgl 8 uly nanti, maka kestabilan politik akan mendorong derasnya arus uang masuk di pasar saham dan obligasi dan kembali memberi insentif kepada rupiah. Faktor lain Surplus Neraca yang membaik dan masih bakal stabil sepanjang 2009, mengindikasikan permintaan domestik akan pulih lebih dini dibanding perkiraan sebelumnya.

Di sisi lain, BI yang terus melanjutkan pemotongan suku bunga berdampak positif untuk pertumbuhan ekonomi. Kebijakan bank sentral yang baru diumumkan Januari 2009 lalu mengenai kewajiban eksportir komoditas untuk menggunakan letter of credit yang diterbitkan oleh bank lokal dengan tujuan membatasi capital outflow akan menjadi faktor pendukung rupiah.

Namun, orang bijak selalu waspada. Kita tidak akan terlena dengan hal-hal positif di atas. Ingat bahwa pasar Indonesia merupakan bagian dari pasar global. Faktor eksternal mungkin dan sangat mungkin membalikkan situasi.

Dari Domestik Resikonya adalah jika SBY hanya mendapatkan sedikit suara dan memerlukan putaran kedua di tanggal 9 September nanti , ingat  Golkar dan PDIP masih mungkin bersatu hal ini dapat memberi tantangan pada Yudhoyono, terutama untuk mendapatkan dukungan dari partai koalisi besar dalam mengimplementasi reformasi ekonomi.

Jika kita waspada terhadap peta pasar global dari minggu ke minggu menjelang pilpres, maka menguatnya nilai tukar Rupiah atas US Dollar masih mungkin berlanjut. Meskipun Rupiah saat ini bergerak melemah namun masih terbatas di area 10.500 (level tertinggi 24 Juni) dan 10.750 (tertinggi 30 April), area ini merupakan strong resistance di samping BI sendiri memang menjaganya agar tidak terlalu jauh.

Tidak tertembusnya resistance yang kuat tersebut akan menjadikan sinyal koreksi positif dan kurs rupiah mungkin kembali terapresiasi menembus 10,000 sebelum mencoba melewati target 9,000. Dengan memanfaatkan moment ini semoga di hati kita semua kembali hadir semangat “aku cinta rupiah”.



Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s